Holistik Leadership “Sebuah Paradigma Baru untuk Para Pemimpin” dalam

Pelatihan Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Progam Organisasi Penggerak dengan Narasumber Dr. Vinsensius Darmin Mbula, OFM

Bagian I

Oleh : Br. YM. Vianney Alexius HT, MTB

Tak seorang pun menjadi pemimpin agung mulia (a great leader) tanpa pertama tama menjadi seorang manusia yang baik. Dalam konsep  ini, kepemimpin itu holistik. Kita membutuhkan system holistik dan pemimpin holistik yang mampu mengintegrasikan perspektif material dan spiritual dalam sebuah cara dialektikal. Kepemimpinan holistik merupakan perjalanan moral dan spiritual.

Langkah pertama dalam perjalanan ini adalah self-knowledge dan memuncak pada self-transendece), melakukan sesuatu yang benar karena alasan yang benar (do right things for right reasons).

Bentuk kepemimpinan tradisional dan struktur organisasi tidak cukup untuk menjawab tantangan dan perubahan realitas yang kompleks, multidimesi dan virtual. Kita membutuhkan cara berpikir baru, struktur baru dan metafora baru. Kita tidak lagi boleh memandang kepemimpinan sebagai sebuah posisi yang memegang autoritas dan atau kekuasaan. Kepemimpinan berarti sebuah relasi moral yang kompleks antara orang, yang didasarkan pada kepercayaan, komitmen dan sebuah visi bersama tentang kebaikan dari masyarakat yang lebih luas. Kepemimpinan holistic memenuhi semua tuntuntan ini. Kepemipinan holistic berbasis nilai.

Mengapa Perlu Paradigma Baru Kepemimpinan Kepala Sekolah

Yin Cheong Cheng memberikan sembilan kecenderungan  reformasi pendidikan pada level global, nasional dan lokal (Glonakal):

  1. menegaskan kembali visi nasional yang baru dan tujuan Pendidikan
  2. restrukturisasi seistem pendidikan pada level yang berbeda;
  3. marketisasi, privatisasi dan diversifikasi pendidikan;
  4. meningkatkan keterlibatan masyarakat dan orang tua dalam pendidikan dan manajemen;
  5. menjamin kualitas, standar dan akuntabilitas;
  6. meningkatkan desentralisasi dan manajemen berbasis sekolah;
  7. meningkatkan kualitas guru, kepala sekolah dan pengembangkan profesionalisme terus menerus sepanjang hidup;
  8. menggunakan informasi teknologi dalam pengajaran dan pembelajaran; dan menerapkan teknologi baru dalam manajemen pendidikan;
  9. membuat perubahan paradigma dalam belajar, mengajar dan evaluasi dan penilaian ( assessment).

Kebutuhan Perubahan Paradigma Dalam Kepala Sekolah

Implikasi untuk paradigma dalam kepemimpinan kepala sekolah menurut Yin Cheong Cheng:

  1. menuju kepada pemimpin yang memiliki visi pendidikan yang baru dan tujuan masa depan;
  2. menuju kepada pemimpin yang menggunakan perubahan teknologi dan budaya;
  3. menuju kepada kepempinan transformasional;
  4. menuju kepada kepemimpinan yang menjamin kepuasan pemangku kepentingan yang beranekaragam;
  5. menunju kepada pemimpin yang menjungjung tinggi akuntabilitas terhadap pemangku kepentingan sekolah  yang multiple internal dan eksternal;
  6. menuju kepemimpinan yang mampu  menghadapi tantangan sekolah yang eksternal (kompetitor);
  7. menuju kepada pembelajaran organisasi;
  8. menuju kepada kepemimpinan transformasional, strategik dan kultural;
  9. menuju kepada kepemimpinan yang kolabiratif dan partisipatif;
  10. menuju kepada partisipasi dan Kerjasama dengan orang tua;
  11. menuju kepada membentuk jaringan social dan aliansi;
  12. menuju kepada kepemimpinan yang kolaboratif, politis dan ekologis;
  13. menuju kepada pemimpin yang mengembangkan multi level dalam aspek berbeda termasuk pada level individu, kelompok, sekolah dan masyarakat;
  14. menuju kepada kepemimpinan strategik, visioner dan kultural.

Lima Dimensi Kepempinan

  1. menuju kepada kepemimpinan transformasional, strategik dan kultural;
  2. menuju kepada kepemimpinan yang kolabiratif dan partisipatif;
  3. menuju kepada partisipasi dan Kerjasama dengan orang tua;
  4. menuju kepada membentuk jaringan social dan aliansi;
  5. menuju kepada kepemimpinan yang kolaboratif, politis dan ekologis;
  6. menuju kepada pemimpin yang mengembangkan multi level dalam aspek berbeda termasuk pada level individu, kelompok, sekolah dan masyarakat;
  7. menuju kepada kepemimpinan strategik, visioner dan kultural.

 

Kepemimpinan Holistik Menurut Satinder Dhiman

  • Sepanjang abad, manusia hidup dalam fragmentasi, alienasi, permusuhan dan peperangan yang didorong oleh mekanisme pertahanan diri sendiri (self-preservation and survival). Namun sebagai makhluk manusia, kita secara kodrati ditarik ke arah kepenuhan, kesatuan dan harmoni;
  • Kita selalu mencari keseluruhan/harmoni pada level fisik, mental, emotional, moral, dan spiritual. ( David Bohm menemukan hubungan erat antara kata kata “health”, “hale”, “w-hole”, “W- holistic”). Kata holistic harus dipahami dalam konteks keseluruhan, utuh/terpadu, harmoni.
  • Pemimpin holistik yaitu seorang pribadi yang berkomitmen terhadap perkembangan harmonis dalam semua dimensi vital- fisik, mental, moral, emotional, moral dan spiritual. Kepemimpinan holistic digambarkan dengan sebuah  dorongan panggilan kedalaman batin; Mereka memandang ke dalam, pertama tama mentranformasi diri mereka sendiri dan kemudian membenamkan diri mereka sendiri ke dalam kebaikan Bersama ( common good). Mereka memahami sangat mendalam tentang system humanis; Holistic leaders are self-directed and other –focused;
  • Di atas semuanya itu, kita yakin bahwa bagi pemimpin yang sungguh berdampak/berpengaruh penuh, haruslah menghargai dimensi spiritual dari pengalaman kepemimpinan. Paus Fransiskus menegaskan kepemimpinan kepala sekolah sungguh sungguh menjadi pemimpin pendidik Ketika mereka bertanggungjawab yang didasarkan pada misi pastoral dan Gereja yang berakar pada Yesus Kristus Sang Gembala yang baik; ( Educating to Intercultural dialogue. In Catholic Schools, no 84).

Mengapa Pemimpin Holistik

Para pakar kepemimpinan terus menerus mengembangkan teori, praksis, strategi, kebijakan tentang kepemipinan. Sejumlah pendekatan baru telah dikembangkan akhir akhir ini yang mengkover seluruh spektrum proses kepemimpinan- dari kepemimpinan transformasional sampai ke kepemimpinan hamba-pelayan, termasuk pendekatan pendekatan yang muncul yang dipengaruhi oleh psikologi positif ( misalnya kepemimpinan autentik dan kepemimpinan diri sendiri).

Sedangkan Kepemimpinan holistic lebih berfokus pada pengembangan personal dari seorng pemimpin dalam sebuah cara,gaya yang holistic. Sedikit sekali konsep kepemimpinan yang sungguh sungguh mengeksplorasi  dimensi self, spirit dan service dari sebuah proses kepemimpinan  dalam sebuah cara integral  dan kurang menghubungkannya dengan keunggulan professional dan kinerja optimal dalam organisasi kontemporer.

 Cycle of holistic Leadership (Satinder Dhiman, 2016)

Satinder Dhiman menawarkan lingkaran kepemimpinan holistic yaitu tiga dimensi: self ( nurturing), Spirit ( aligning) dan Service ( contributing). Dan ketiga dimensi ini menghubungkan ketiga tipe kepemimpinan: Self-leadership, Authentic Leadership dan Legacy Leadership.

Self-Leadership menghadirkan fase persiapan pada jalan kepemimpinan holistic yang mencakup self-motivation, self-mastery,  dan self-creativity. Dalam Self Leadership ini yang dibutuhkan saat ini adalah self-compassion yaitu self-kindness; common humanity, dan mindfulness.

Autentic leadership berkaitan dengan kesadaran diri sendiri yang ditunjukan dengan perspektif moral yang mengungkapkan kesatuan dan kemurniaan dalam pikiran, bicara,  dan tindakan. Autentik Leadership juga disebut spiritual leadership yang terdiri dari emosi dan kecerdasan majemuk; Appreciative Inquiry ( menemukan yang terbaik dalam diri orang dan organisasi); pemimpin yang autentik/spiritual: mengejar tujuan dengan passion, mempraktekkan nilai nilai utama, memimpin dengan hati, menegakkan relasi yang abadi, menunjukkan disiplin diiri sendiri.

Service Leadership menghadirkan  pencarian   makna dan kepenuhan dengan pelayanan tanpa pamrih atau demi kepentingan diri sendiri  sebagai sebuah warisan/harta pusaka  abadi dari pemimpin.;

Paradigma kepemimpinan holistic mengakui dan bangun pada “dialekticisme inherent”  dan  mencari resolusinya  dalam mengutamakan kebaikan orang lain daripada kebaikan dirinya sendiri.

 

Self-Motivation: Memotivasi Seluruh Pribadi

Kita memulainya dengan hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow dan teori fackor dari Herzberg. Kita fokus pada seni realisasi seluruh potensi diri seseorang sama seperti peranan motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

Motivasi selalu diartikan sebagai mengapa seseorang pribadi melakukan sesuatu. (Motivation= movere=motum=move= mengapa berperilaku dan berbuat). Proses internal yang menyebabkan seseorang bergerak ke sebuah tujuan.

Hirarki kebutuhan dari Maslow: (Motivation and Personality, 1954):

Ada lima kebutuhan: kebutuhan fisologis (makan, minum dan tidur), kebutuhan keamanan (shelter dan proteksi dari bahaya), kebutuhan memiliki, self-esteem, self-actualization.

Visi Maslow ini menegaskan dua hal yaitu, pertama merealisasikan kebutuhan B mewartakan sebuah peradaban baru di mana orang skan menjadi lebih sehat, lebih vital dan bergema; kedua, pertumbuhan seperti ini akan mengantar sebuah Gerakan menuju moral yng lebih mulia, damai spiritual dan harmoni dan berkelimpahan (abndance).

Semua orang yang mengaktualisasiskan dirinya memiliki sebuah alasan yang mereka Yakini, sebuah panggilan: “my work” merupakan mission dalam kehidupan; Maka ada kaitan erat antara self-actualization dengan human  happiness.

Benarlah puncak dari kapasitas seseorang mensyaratkan kerja keras, dedikasi, disiplin, training, praktek, dan seringkali penundaan kesenangan

Self-TRANSCENDING HUMAN BEING

Self-transendece sebagai beyond self-actualization: seorang pribadi mencari alasan-alasannya untuk bertindak melampaui dirinya sendiri dan melampaui  batas-batas geografis dirinya sendiri.

Hal ini mencakup  service to others, devotion to an ideal (truth, art, justice social, environmentalism, the pursuit of science, a religious faith).

Seorang pribadi hanya menemukan aktulisasi dirinya yang sejati hanya dalam  hanya dengan memberikan dirinya kepada tujuan yang lebih tinggi di luar dirinya sendiri, dalam altruism dan spiritualitas.

Seorang yang bekerja dengan kondisi yang terbaik senantiasa cenderung dimotivasi oleh nilai nilai yang transenden, melampaui dirinya sendiri.

Seseroang yang terbebaskan dari dirinya sendiri; dirinya sendiri terbebaskan dari ketidakmampuan manusiawi yang fundamental: self-centereedness.  Seseorang mampu menemukan kepenuhan dalam hidup dengan nilai nilai tertinggi, keindahan, kebenaran, keadilan dan kasih ( higher  values of beauty, truth, justice and love).

Teori Dua Faktor Dari Frederick Herzberg

Teori dua factor ini muncul dari penelitiannya tentang orang yang Bahagia dan tidak Bahagia dalam menjalankan pekerjaannya. Ia mengindetifikasikan dua factor: factor lingkungan ( konteks pekerjaan/context of the job) dan factor motivator ( growth or motivator factors) (content of the job).

Ada dua motivasi, motivasi ekstrinsik dan instrinsik. Motivasi ekstrinsik datang dari luar seorang pribadi seperti kondisi pekerjaan, supervisor, pay and security, dan kebijakan perusahaan; Motivasi intrinsic merujuk kepada kerinduan internal dari seorang pribadi untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsic ini secara vital dikaitakn dengan kreativitas. Kita berada pada kreatif yang terbaik Ketika kita melakukan apa yang kita cintai secara intrinsic dan mencintai apa yang kita lakukan/kerjakan.

Therea Amabile ( seorang pakar creativitas dari Harvard) mengatakan memelihara kretivitas kita dalam bekerja bergantung pada memelihara motivasi intrinsic kita. Ini berarti, “ you should do what you love, and you should love what you do.” Pertama tama menemukan sebuah pekerjaan yang secara baik cocok dengan keahliaanmu, keterampilan berpikir kreatifmu dan motivasi instrinsik yang kuat; Kedua, sebuah masalah menemukan sebuah pekerjaan yang bisa mempertahakan focus motivasi intrisik dan sambal mendukung eksplorasi gagasan baru anda. Ia memberikan sebuah kesimpulan dan pernyataan yang amat penting untuk menjaga motivasi intrinsic: DO what you love and love what you do.

Goal Setting And Human Motivation

Tragedi kehidupan tidak terletak dalam tidak tercapainya tujujan Anda. Trgaedi kehidupan terletak dalam tidak mempunyai tujuan untuk dicapai ( Robert H. smith). Maka betapa pentingnya setiap kali kita bangun pagi, kita membuat pertanyaan, apa yang perlu kita kerjakan hari ini?

Teori tujuan merupakan sebuah teori  yang menjelaskan  apa yang menyebabkan atau alasan seseorang berkinerja lebih baik dalam kerjanya dibnadingkan dengan yang lain. Toeri ini mulai dengen premis  bahwa kehidupan adalah sebuah proses  Tindakan yang menghasilkan tujuan dan tujuan yang mempengaruhi aksi. Tujuan adalah batu penjuru dari  human –otivational endeavor dan kerja sebagai self-direction mechanism. Tidaklah cukup untuk “lakukan yang terbaik.” Pentinglah proses untuk self-regulation melalui   self-set goals.

Self-esteem didefinisikan sebagai relasi  untuk bagaimana kita mengevaluasi diri kita dan karakteristik kita, secara khusus kuatlias kebaikan, self-compassion. Self-compassion diasosikan dengan  happiness, optimism, peace of mind, wisdom, curiosity and emotional-intelligence. Neff menjelaskan ada tiga unsur dari self-compassion: self-kindness, common humanity, mindfulness.

Self-determination teori ( SDT): mempostulatkan bahwa orang memiliki tiga kebutuhan psikologis yang inherent: kompetensi, relasi dan otonomi. Deci mengatakan seseorng  dimotivasi oleh kebutuhan psikologis fundamental: autonomy, competence dan relatedness. Temuan ini berimplikasi untuk kebutuhan dasar dan tujjuan hidup, baik instrinsik maupun ekstrinsik.

Kesimpulan

Perjalanan untuk self-transformation adalah sebuah perjalan panjangan dan hard dan dihadang sejumlah tantangan pada setiap Langkah. Dalam perjalanan ini ada daging dan roh, yang kadang kadang seringkali berjalan tidak seiring dan sejalan.

Menguasai diri sendiri ( personal mastery melibatkan tiga aspek yang berkaitan dengan disiplin diri sendiri, yaitu kemampuan untuk bertahan terhadap cobaan/godaan, kemampuan untuk menolak gratifikasi, the imposing of strict standards of accomplishment upon oneself.